Scroll untuk baca artikel
Top banner Example 325x300
Industri

Ini Penyebab Ekspor Tekstil Turun 0,80% Secara Bulanan dan Tahunan

22
×

Ini Penyebab Ekspor Tekstil Turun 0,80% Secara Bulanan dan Tahunan

Share this article
Foto Ilustrasi
Example 468x60

HFANEWS.COM – Seiring dengan isu penutupan pabrik dan PHK massal yang terjadi awal 2024 ini, Kinerja ekspor komoditas tekstil dan produk tekstil (TPT) cenderung mengalami penurunan secara bulanan maupun tahunan.

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Habibullah mengatakan, meski meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, nilai ekspor kumulatif untuk TPT turun 0,80% pada Januari-Mei 2024 dibandingkan periode tahun lalu.

Example 300x600

“Secara kumulatif pada periode Januari-Mei 2024 komoditas tekstil mengalami penurunan nilai ekspor sebesar 0,80% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Habibullah, dikutip Kamis (20/6/2024).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor TPT pada Mei 2024 sebesar US$963,7 juta atau turun 6,80% year-on-year (yoy) dibandingkan Mei 2023 senilai US$1,03 miliar.

Baca Juga: Bea Cukai Buka Suara Soal Barang Impor Usai Permendag Direvisi

Dari sisi volume, ekspor TPT juga turun dari 173,7 juta kg pada Mei tahun lalu menjadi 167,03 juta kg. Sementara itu, secara bulanan nilai ekspor Mei 2024 naik 28,06% menjadi US$963 juta dari bulan sebelumnya senilai US$752 juta.

Hal ini selaras dengan kenaikan volume ekspor yang naik dari April sebanyak 145,7 juta kg menjadi 167 juta kg.

Dia menerangkan, dari total 14 kode HS 2 digit yang mencakup komoditas TPT, hanya kode HS 50 atau sutra yang mengalami penurunan nilai ekspor. Adapun, ekspor sutra turun dari April sebanyak US$23.137 menjadi US$21.748 pada Mei 2024.

“Penurunan kinerja ekspor disebabkan sejumlah faktor, mulai dari kondisi permintaan pasar global yang kurang baik, persaingan yang semakin ketat dengan China, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah,” terangnya.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa mengatakan, polemik pasar global masih menjadi penghambat utama lantaran posisi nilai tukar dolar AS yang semakin menguat sehingga permintaan global kurang bagus.

“Ini memberikan pressure bagi industri TPT nasional. Di samping persaingan yang semakin ketat karena kebijakan de risk dari AS dan Uni Eropa yang membuat China tekanan dan mengalami kelebihan produksi,” ujarnya.

Kelebihan pasokan TPT di China membuat negara tersebut menyasar negara dengan pasar potensial. Namun, penerapan regulasi trade barrier-nya masih lemah. Alhasil, Indonesia menjadi sasaran.

Kondisi ini membuat pasar domestik RI kebanjiran barang tekstil dan pakaian. Produk lokal pun kalah saing dengan barang dari China yang dikenal lebih murah sehingga memicu utilitas produksi tekstil dalam negeri stagnan di kisaran 50-60%.

Lemahnya utilisasi produksi TPT nasional yang disebabkan rendahnya pengamanan pasar dari barang impor disebut menjadi biang kerok penutupan pabrik dan PHK massal lantaran pesanan yang minim.

Berdasarkan catatan API, PHK buruh tekstil di sentra industri TPT seperti Bandung dan Solo mencapai 7.200 tenaga kerja sepanjang 2023.

Sementara itu, hingga Mei 2024, total PHK telah mencapai 10.800 pekerja. Adapun, pada kuartal I/2024, jumlah PHK tekstil mencapai 3.600 pekerja atau naik 66,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sejak awal 2023, API juga mencatat kurang lebih 20-30 pabrik tutup.(HFAN/Arum)

 

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *