Scroll untuk baca artikel
Top banner Example 325x300
Bisnis

Sikap Investor Wait and See, BI: Kinerja Investasi DKI Diproyeksi Tertahan di Momen Pemilu

41
×

Sikap Investor Wait and See, BI: Kinerja Investasi DKI Diproyeksi Tertahan di Momen Pemilu

Share this article
Example 468x60

HFANEWS.COM – Akibat sikap wait and see investor yang terjadi selama momen Pemilu 2024, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kinerja investasi Provinsi DKI Jakarta akan tertahan pada tahun politik atau Pemilu 2024.

Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta Arlyana Abubakar dalam Seminar Outlook Jakarta 2024 di Gedung Heritage Kantor Perwakilan BI Jakarta, Rabu (6/12/2023).

Example 300x600

“Kinerja investasi (DKI Jakarta) diperkirakan agak sedikit tertahan, dipengaruhi oleh sikap wait and see investor pada periode Pemilu 2024 dan ini memang sejalan dengan pola historis yang selama ini terjadi,” ujarnya .

Mengacu data Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi di Jakarta sepanjang Januari hingga September 2023 mencapai Rp130,3 triliun.

Baca Juga: Targetkan Pendapatan Rp123 Miliar di Tahun Politik, Begini Strategi SBMA

Secara rinci, penanaman modal asing (PMA) tercatat senilai US$3,8 miliar, sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp74,7 triliun. Angka PMDN tersebut menjadi yang tertinggi secara nasional pada periode tersebut.

Bukan hanya sikap wait and see, Arlyana melihat adanya perpindahan ibu kota menuju Kalimantan Timur turut menjadi tantangan bagi Jakarta yang nantinya akan beralih menjadi Daerah Khusus Jakarta (DKJ).

Di kesempatan yang sama, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) Andry Asmoro melihat tren Pemilu yang terlaksana 5 tahunan ini selalu terjadi setelah adanya peristiwa global yang cukup besar. Melihat Pemilu 2009 yang dilakukan di tengah kondisi global financial crisis.

Sementara pada 2014 dilakukan setahun setelah taper tantrum yang mengakibatkan melemahnya rupiah. “2019 itu dilakukan setelah adanya trade war kala Donald Trump. 2024 nanti, kita sudah sama-sama tahu bagaimana ekspansifnya kenaikkan fed funds rate (FFR),” jelasnya.

Tak tanggung-tanggung, The Fed telah memperketat kebijakan moneter dan mencapai level tertingginya dalam 22 tahun terakhir, di posisi 5,25%-5,5%. Asmo, sapaan akrabnya, meminta Jakarta untuk dapat membuat iklim investasi stabil meski di tengah tahun politik dan guncangan global.

“Jadi memang langkah-langkahnya ke depan, bagaimana Jakarta membuat iklim supaya investasi itu bergerak. Tidak naik turun di setiap tahun politik. How to break the cycle. Kalau Jakarta bisa dan mampu melakukan itu, saya rasa bisa jadi contoh untuk provinsi-provinsi lainnya,” jelasnya. (HFAN/Arum)

 

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *