Scroll untuk baca artikel
Top banner Example 325x300
BeritaNasional

Masa Depan Energi Indonesia: Pilihan Pengganti BBM yang Berkelanjutan

1290
×

Masa Depan Energi Indonesia: Pilihan Pengganti BBM yang Berkelanjutan

Share this article
Example 468x60

HFANEWS.COM – PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading Pertamina, mengungkapkan saat ini Indonesia memiliki pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM).

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan mengatakan bahwa saat ini pihaknya bersama dengan PT Energi Agro Utama , anak usaha dari PT Sinergi Gula Nusantara , untuk memproduksi bioetanol berbasis tetes tebu (molase). Adapun jumlah produksi bioetanol kini mencapai 30 ribu kilo liter per tahun.

Example 300x600

Riva menyebut, sebagian dari produksi bioetanol tersebut dialokasikan untuk memproduksi BBM Pertamax Green 95 yang merupakan campuran antara BBM fosil dan bioetanol sebesar 5% (E5).

Baca juga : Korelasi Antara Arus Dana Asing dan Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS

“Sebagian dari 30 ribu kilo liter itu kita offtake (ambil) untuk memproduksi Pertamax Green 95,” tambahnya.

Dia juga mengatakan bahwa hingga saat ini antusias masyarakat untuk menggunakan Pertamax Green 95 semakin meningkat walaupun terhitung usia komersialisasi Pertamax Green 95 hingga saat ini baru 5 bulan.

Dengan begitu, pihaknya mengungkapkan pemanfaatan produk BBM bercampur dengan bioetanol tersebut sudah mencapai 5 ribu kl per hari.

“Ke depannya, kalau kita melihat volume saat ini, mungkin per harinya ada di sekitar 5 ribu liter per hari. Yang kita estimasikan di dalam satu bulan itu mencapai sekitar 150 ribu liter atau 150 kl. Nah harapannya ini akan meningkat 2-3 kali lipatnya di tahun 2024,” tuturnya.

Sebelumnya, Anggota Dewan Energi Nasional Satya Widya Yudha mengungkapkan Indonesia mempunyai target produksi bioetanol yang berasal dari tanaman tebu hingga 1,2 juta kilo liter (kl) pada 2030.

Hal tersebut termuat di dalam peta jalan yang menjadi amanat Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel).

“Kita tahun 2030 menargetkan bioetanol sebesar 1,2 juta kl luar biasa kan cukup besar sekali,” ungkap Satya.

Sementara, produksi bioetanol di dalam negeri sendiri saat ini jumlahnya baru sekitar 40 ribu kl per tahun. Artinya, perlu ada penambahan areal lahan baru perkebunan tebu guna memenuhi kebutuhan untuk produksi bioetanol.

Satya membeberkan bioetanol sebenarnya tidak hanya bergantung pada tebu saja. Produk bioetanol sendiri dapat diekstrak dari tanaman lainnya seperti sorgum salah satunya. (hfan/dvd)

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *